Senin, 16 November 2015

Tugas kelompok!! Only temporary and immediately removed, guys :)



Saat ini kita sering menghadapi masalah yang dapat mengancam keberadaan manusia. Masalah ini adalah tentang penggundulan hutan. Fenomena ini akan menyebabkan beberapa bencana yang dibuat oleh ulah manusia. Penebangan liar, perbuatan yang sangat tidak bertanggung jawab ini dilakukan oleh manusia-manusia yang rakus dan tidak bertanggung jawab. Mereka terus menebang tanpa mengetahui betapa pentingnya pohon untuk bumi ini.
Nowadays we often face problems that can threaten human existence. This issue is about deforestation. This phenomenon will cause some disaster created by human activity. Illegal logging, works very irresponsible is done by human beings who are greedy and irresponsible. They continue to cut down trees without knowing how important it is for this earth.

Maka dari itu kita bisa melakukan reboisasi, yaitu peranan kembali hutan yang gundul. Reboisasi adalah penanaman kembali hutan yang telah ditebang (tandus, gundul). Reboisasi berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia dengan menyerap polusi dan debu dari udara, membangun kembali habitat dan ekosistem alam, mencegah pemanasan global dengan menangkap karbondioksida dari udara serta dimanfaatkan hasilnya (terutama kayu). Pohon bisa mengubah gas-gas CO2 menjadi O2 yang sangat penting untuk kita. Tanpa adanya pohon, gas-gas CO dan CO2 akan semakin banyak kerusakan lapisan ozon.
Therefore we can do reforestation, namely the role of the forest bare back. Reforestation is the replanting of logged forests (barren, barren). Reforestation is useful for improving the quality of human life by soaking up pollution and dust from the air, rebuild natural habitats and ecosystems, preventing global warming by capturing carbon dioxide from the air and used the results (mainly wood). Trees can convert the gases CO2 into O2 very important to us. Without the trees, the gases CO and CO2 will be more damage to the ozone layer.

Berdasarkan pernyataan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa penggundulan hutan dapat menimbulkan bencana. Maka untuk itu, marilah kita melakukan penanaman pohon atau reboisasi guna melindungi atau mencegah terjadinya bencana dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang.
Based on that statement, we can conclude that deforestation can lead to disaster. So for that, let us do the tree planting or reforestation in order to protect or prevent the occurrence of disasters in the present or in the future.

Minggu, 15 November 2015

Contoh Teks Pidato



Langkah-Langkah Sebelum Membuat Pidato
1.      Menentukan peran                            : (contoh) Ketua Dewan Jurnalistik Jawa Tengah
2.      Menentukan kegiatan/acara               : (contoh) Mengenalkan Dunia Jurnalistik Pada Siswa SMA/SMK se-Kabupaten Banyumas
3.      Menentukan tamu undangan/audien   : (contoh) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas, Perwakilan Anggota Dewan Jurnalistik dari Satelit Post, RRI Purwokerto dan Harian Kompas, Pengurus OSIS SMA/SMK se-Kabupaten Banyumas
4.      Menentukan tempat dan waktu          : (contoh) Aula Gedung Harmony Purwokerto, tanggal 20 November 2015, Pukul 09.00 WIB
5.      Menentukan topik pidato                   : (contoh) Sukses dan Bangga Menjadi Wartawan


Bissmillahirahmanirahim
Assalamu’alaikum Wr.Wb, Selamat pagi, Salam sejahtera untuk kita semua….

Yang terhormat Bapak Drs. H. Haris Nurtiono, M.Si selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas. Yang saya hormati rekan-rekan perwakilan angota dewan jurnalistik dari Satelit Post, RRI Purwokerto dan Harian Kompas. Tidak lupa yang saya banggakan, adik-adik pengurus OSIS SMA/SMK se-Kabupaten Banyumas. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih atas kehadirannya yang telah meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan ini. Terdapat sebuah istilah yang tidak asing bagi kita “tak kenal, maka tak sayang”, jadi ijinkan saya memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Nama saya Eka Tyara Setyawan, biasa dipanggil Mba’ek. Jabatan saya dalam dunia jurnalistik sebagai ketua dewan jurnalistik Jawa Tengah. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena sampai detik ini kita masih diberikan nikmat yang tiada tara oleh-Nya. Dan karena kekuasaan-Nya pula yang telah mempersatukan kita dalam kegiatan yang berjudul “Mengenalkan Dunia Jurnalistik pada Siswa SMA/SMK se-Kabupaten Banyumas”. Hadirin yang saya hormati, pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan sebuah pidato dengan topik “Sukses dan Bangga Menjadi Wartawan”.

Wartawan adalah orang-orang yang bekerja memburu, meliput, kemudian menuliskan berita. Wartawan adalah profesi yang disegani dan sangat dihormati semua orang. Mengapa begitu? Karena, wartawan itu penyebar informasi. Jadi, mereka yang tidak ingin informasinya diketahui orang banyak, mereka akan merahasiakannya dari wartawan. Namun bagi mereka yang yang ingin mengumbar informasi tentang dirinya, justru mencari wartawan dan memohon agar informasi tentang dirinya dimuat dan disebarluaskan ke masyarakat. Wartawan selalu diburu oleh deadline, yaitu batas akhir penyerahan naskah. Mereka tidak terikat waktu kerja, wartawan bekerja 24 jam penuh. Hal ini tentunya tergantung sifat pemberitaan yang dikejar dan proses pencariaan berita.

Adik-adik yang saya banggakan, wartawan ialah abdi atau hamba masyarakat yang sukarela dalam bekerja. Ia pembawa berita, penyuluh, pemberi penerangan, pengajak perfikir, serta pembawa cita-cita. Ia berkecimplung didalam 1001 macam segi kehidupan masyarakat. Namun di atas segalanya, wartawan haruslah pemberani, jujur dan memiliki kesetiaan pada darmanya. Paulus Winarto, penulis How to Headline the Journalist, mengatakan bahwa pers dan wartawan di negeri ini ibarat hantu hidup. Karena, wartawan dianggap sebagai pembuat onar alias troublemaker. Masyarakat melihat wartawan itu sebagai sosok yang menakutkan, karena wartawan suka usil, selalu ingin tahu dan banyak tanya. Kondisi seperti ini tentu tak nyaman bagi mereka yang sedang punya masalah, yang tidak mereka inginkan untuk diketahui publik. Jika masalah tersebut terdengar oleh wartawan, maka wartawan akan mengungkit dan menulisnya di media.

Hadirin yang berbahagia, bagi seorang wartawan yang terpenting adalah kemampuan menggunakan mata secara lebih intensif untuk melihat kejadian yang ada. Ia juga memasang telinga seperti hendak mendengar bisikan-bisikan halus untuk membuka tabir rahasia. Ia dapat merasakan apa yang tidak dirasakan orang lain. Selain itu, ia diberi kesempatan setiap saat untuk memperkaya diri dengan pengetahuan keadaan kehidupan secara menyeluruh. Pada saat-saat tertentu dalam karirnya, wartawan pun bisa memilih salah satu bagian pekerjaan jurnalistik yang paling digemari dan dikuasainya. Kelak ia pun bisa menjadi ahli atau spesialis di bidang tertentu. Karena pekerjaannya mendorongnya setiap saat untuk maju dalam pemikiran, pandangan dan penanggapan, maka ia pun mampu menguasai semua persoalan secara umum dan mendasar. Dengan demikian, ia telah memenuhi salah satu syarat wartawan yang sukses, yaitu mengetahui sesuatu secara menyeluruh. Bahkan dalam jajaran pimpinan, ia bisa duduk di dewan redaksi, sebagai pemimpin redaksi atau wakilnya. Tugasnya lebih banyak menulis atau mengadakan diskusi-diskusi. Ia akan memberi sumbangan pikiran bagi wartawan pemula saat bertempur di lapangan. Perlu diingat, tak ada kata pensiun untuk wartawan.

Adik-adikku para penerus masa depan, sampai kapanpun profesi wartawan sangat dibutuhkan. Karena, mereka adalah jembatan antara penguasa, pemerintah atau lembaga apapun dalam menginformasikan suatu hal kepada masyarakat. Wartawan juga sering dianggap dewa penolong, terutama jika berhasil membela hak orang yang tertindas. Yang lebih penting, wartawan itu tidak egois. Dia bekerja bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk banyak orang. Harus diingat bahwa pada umumnya wartawan menjadi besar dan ternama karena kemahirannya menggunakan apa yang selalu disebut “indera keenam”. Jadi, wartawan punya keunggulan dalam hal insting dan nalarnya. Saudaraku, semoga terlakasananya kegiatan ini, bisa melahirkan para penerus dalam bidang jurnalistik yang handal dan lebih baik untuk kedepannya. Sekian, pidato yang saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga menjadi manfaat dan berkah untuk kita semua. Jika ada tutur kata, tingkah laku yang salah baik yang disengaja maupun tidak disengaja, saya mohon maaf.

Wabillahitaufiqwalhidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb, salam jurnalis!

Senin, 24 Februari 2014

Contoh Pengalaman Pribadi menggunakan Bahasa Jawa



MEH BAE, GEGER KU GESENG

        Mbiyen, umurku esih 8 taun. Aku duwe batir sebrayan jenenge, Afi, Wulan, Sekar, Dani, Adit lan Dea. Aku karo batir-batirku iku angger dolan neng kebone Mbah ku dewek. Angger wis nang kebon, ana bae sing gawe masalah. Ana sing ngrusaki tanduran budin, ana sing penekan neng wit jambu la nana sing mbakari runtah godong garing. Mbah ku wis ngandani, angger lagi panas-panas aja mbakari godong garing nang kebon mbokan kebone kebakaran.
        Lah, jenenge bae bocah cilik dikandani angger dereng di gentak nang wong tuwane dewek ya pada ra peduli. Dina kuwi dina Setu sore, aku lan kanca-kancaku niate arep dolanan obong-obongan nang kebon. Nanging batirku sing jenenge Wulan ngandani, angger arep dolanan obong-obangan aku kon njaluk ijin disit karo Mbah ku. Sedurunge, aku ora gelem, aku wedi mbokan di domeih karo Mbah ku. Nanging batirku liyane meksa aku kon njaluk ijin, akhire aku gelem.
        Pas wis gutul nang ngarep lawang umah Mbahku, aku ora wani aku gemeteran meh bae aku ngompol. Akhire Mbah ku ndeleng aku sing lagi nang njaba umah, Mbah ku takon “Ono opo toh, ndo? Ora kaya biasane koe ming umah Mbah mu?”. Akhire aku nerangna angger aku arep njaluk ijin dolanan obong-obongan nang kebon. Mbah ku ngandani aku “Ndo, koe iki bocah wadon! Ora patut bocah wadon kok dolanane obong-obongan. Lah ngono! Sakarepmu bae. Tapi angger ana apa-apa aja njaluk tulung karo aku! Sing penting aku wis ngandani koe, Ndo!”. Akhire aku balik ming kebon lan ngandani batir-batirku supaya aja dolanan obong-obongan.
        Batirku pada ngeyel, lan ora ngrungukna omonganku. Akhire, aku melu-melu bae dolanan nang kebon. Aku di kongkon neng batirku sing jenenge Dani supaya njukut korek nang ngumah, aku manut lan aku njukut korek nang ngumah. Batirku sing liyane, pada ngumpulna runtahan lan ana sing mbedul wit budin. Budine arep di bakar terus di pangan bareng-bareng.
        Barang ora kawit suwe, batirku sing jenenge Afi ngeduk lemah nggo wadah runtah sing arep di bakar. Bar kuwe runtah lan budin di lebokna nang lemah sing wis di keduk mau. Batirku sing jenenge Adit arep ngurubna geni lan Dea nyuntek lenga latung nang runtahan mau. Geni murub gede pisan, lan ati ku wis trataban mbokan kebone Mbah ku kebakaran. Aku mlayu njukut ember nang ngumah lan aku ming blumbang sing akeh banyune, niate aku arep mateni genine.
        Niat apikku malah salah tanggap. Awakku sing esih cilik nggawa ember gede sing isine benyu kebek malah kepaduk tiba. Aku tiba persis nang ngarep obong-obongan runtah. Aku tiba gegerku sing nggletak nang duwur geni. Klambiku kebakar, untunge batirku langsung nggered aku ming blumbang. Aku di jorogna tiba ming blumbang, untunge geni sing maune mbakar klambiku langsung bae mati. Angger ora tulih gegerku geseng gara-gara ke obong geni.
        Aku bali ming ngumah ora nganggo klambi, amarga klambiku ke obong mburine. Aku di takoni nang biyunge “Ndo, klambimu maring endi toh? Terus ngapa awakmu teles kabeh?” Aku ora njawab mung prangas-prenges tok. Aku langsung adus mbersihna awakku. Sabubare adus aku ndeleng batir-batirku lagi ngobrol karo wong tuwaku.
        Atiku tambah trataban mbokan aku de domeih. Aku kon njagong karo biyungku, akhire aku njelasna apa sing tes kedadean. Biyungku ngandani, angger bocah wadon kuwe ora patut dolanan sing kaya kue. Sabubare kedadeyan kuwi, aku janji karo awakku angger aku ora bakal dolanan sing bisa ngrugeni awake dewek.

Contoh Biografi Ayah menggunakan Bahasa Inggris




My Father, My Pride

My father's name Jhon Setiawan, Iwan more familiar greeted by family and neighbors. He was the first child of the couple Mulya Bambang Setiawan and Endang Rahayu. He was born on October 28, 1972 in Sukoharjo. My dad has 2 younger siblings and 2 step-sister.  Since childhood he used to live independently, although both his parents have a sizeable income. His father was an Army and his mother was a school principal in one elementary school in Depok. Because his father always travel out of town, causing him closer to his mother.
He has been educated up to college. He graduated from Elementary Budi Mulya Putra South Jakarta. After graduating from elementary school, he continued his education at Junior High School 211 Jagakarsa. After that, he proceeded in Vocational School Warga Surakarta. When finished weaving science for 12 years, he went to work in a foreign company engaged in the industry in the manufacture of automotive spare parts.
Not until one year my father worked, he decided to stop working at that company. He was ordered by his father to continue their education in college. As a result, he entered in University Sebelas Maret Surakarta with a major in Economics education. With the knowledge that he had, he managed to complete his education less than 4 years. After that he returned to Jakarta and looking for work. Shortly after that, my father received at one of the industry in Cikarang. During the 7 years of work on the company, my father decided to stop working. With a capital of knowledge and experience, he finally decided to open his own business in his hometown of Solo. With perseverance and hard work, he finally satisfied and proud of his work at this time.